anak krakatau November 17, 2008
Posted by faizal rachman in Uncategorized.3 comments

Anak Krakatau
Biaya 2,5 juta disepakati setelah kami bernegosiasi dengan crew speedboat berkapasitas 6 penumpang dan 2 crew untuk mengantarkan kami menuju anak krakatau. Waktu tempuh sekitar 1 jam 20 menit dari kawasan pasir putih pantai Carita. Pulau pertama yang terlihat adalah Pulau Rakata (sekarang lebih dikenal induk Krakatau), berada disekitarnya adalah Pulau Sertung, Pulau Panjang, dan Anak Krakatau. Pulau Rakata saat ini merupakan 1/3 bagian yang tersisa akibat letusan Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883 silam. Letusan yang sangat dahsyat, suaranya saja terdengar oleh 1/8 penduduk bumi waktu itu.
Jarum jam menunjukkan pukul 9 pagi ketika kami menginjakkan kaki di Anak Krakatau, gunung api yang baru terbentuk pada tahun 1927, yang hingga kini masih bertambah tinggi. Udara cukup cerah saat itu dan hawa panas mulai terasa di permukaan kulit kami. Di benak saya timbul rasa kesal melihat sampah-sampah bekas pengunjung yang berserakan di sekitar pintu masukcagar alam yang indah ini.
Beberapa papan informasi tentang Krakatau terpampang di lokasi, salah satunya himbauan bagi pengunjung untuk menjaga keaslian flora dan fauna yang berada di sini. Setelah sarapan dengan bekal yang kami bawa, kami pun melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju lereng Anak Krakatau.
Pemandu mengingatkan kami untuk membawa air minum dan menggunakan sepatu, karena matahari cukup terik dan permukaan berpasir hangat yang dapat masuk ke sela-sela kaki jika kita tidak menggunakan sepatu. 200 meter pertama, kami melalui jalan setapak yang masih rimbun dengan tumbuh-tumbuhan yang ada, setelah itu perjalanan ditemani oleh teriknya matahari. Tebalnya pasir vulkanis dan kondisi jalan yang menanjak memperberat laju kami dan letih pun mulai terasa. Sejenak rasa itu hilang saat kami alihkan pandangan ke belakang untuk melihat pemandangan yang ada.
Di perjalanan kami melihat bongkahan material padat yang berasal dari letusan gunung. Tanaman yang tumbuh pun hanya tanaman yang dapat beradaptasi dengan tandusnya tanah di sini. Salah satu tanaman yang kami lihat adalah Harendong, yang memiliki nama latin Melastoma Affine. Lereng gunung berpasir tebal dan panas terus kami langkahi, peluh pun kian membasahi helai pakaian yang ada.
30 menit berlalu, kami pun tiba di lereng Anak Krakatau. Rasa letih sirna setelah melihat pemandangan alam yang semakin memanjakan mata kami, pemandangan alam yang begitu indah. Puncak Anak Krakatau sedang terlelap, setelah sempat aktif pada pertengahan tahun 2008 silam. Terdapat alat pendeteksi gempa yang sudah tidak berfungsi lagi akibat tertimpa material letusan gunung.
Menit pun berlalu saat degup jantung semakin mereda setelah pendakian, kami bergegas menuju pulang, kembali menuruni lereng yang kami lewati tadi. Niat tertambat untuk kembali ke tempat ini, “Indahnya alam milik Maha Pencipta, ada di Indonesia, satu karunia yang wajib kita syukuri”.









